JAKARTA, WARTAGRIBISNIS.COM – Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M Panggabean memastikan, benih gula asal Australia memenuhi prinsip ketertelusuran yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Barantin.
Diketahui, pemerintah Indonesia berencana memasukan benih tebu asal Australia yang dikenal sebagai salah satu industri gula dengan biaya terendah di dunia untuk ditanam di lumbung pangan (area food estate) Merauke, Papua Selatan.
“Sejalan dengan tugas, pokok dan fungsi kami, ketertelusuran komoditas pertanian dan perikanan impor harus dipastikan guna memberi jaminan terhadap kesehatan hewan, ikan dan tumbuhan serta keamanan dan mutu pangan serta pakan,” kata Sahat melalui keterangan tertulisnya, Rabu (13/3).
Menurut Sahat, kunjungan kerjanya ke Australia pada tanggal 5 – 9 Maret yang lalu ini sejalan dengan program Presiden RI, Jokowi untuk percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (Biofuel) dalam rangka ketahanan pangan dan energi yang tertuang dalam Perpres 40 tahun 2023.
Program yang menargetkan peningkatan produksi tebu hingga 93 ton per hektare dan penambahan areal lahan baru seluas 700,000 hektare ini akan diimplementasikan di kawasan food estate di Merauke, Papua Selatan.
“Kami mengawal benih tebu asal Australia yang akan dikembangkan di Merauke, dan ini menjadi tanggung jawab Barantin guna mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari Australia yang berpotensi terbawa. Untuk itulah saya bersama tim datang langsung untuk memastikan ketertelusuran benih dan bagaimana perlakuan tindakan karantina di negara asalnya,” papar Sahat.
Sahat juga menerangkan, perbanyakan tebu dilakukan melalui teknik kultur jaringan guna menghasilkan benih-benih tebu yang sehat bebas patogen penyakit bawaan dan dijamin kemurnian genetiknya.
Benih tebu dari laboratorium berupa planlet telah dilakukan Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT). Permohonan Surat Izin Pemasukan (SIP) Kementan untuk pemasukan planlet tersebut juga telah diterbitkan.
Sebagai informasi, pada kunjungan kerja kali ini, Sahat didampingi oleh plt. Deputi Karantina Tumbuhan dan Ketua Tim Tindakan Karantina Tumbuhan, Bambang.
Kunjungan diawali dengan mengunjungi kebun indukan planlet tebu di Townsville guna memastikan kebun indukan tersebut telah mengimplementasikan sistem budidaya yang baik, temasuk monitoring dan pemantauan OPT yang menjadi perhatian Indonesia serta melakukan tindakan pengendalian terhadap hama dan penyakit tumbuhan, proses perakitan varietas tebu unggul oleh Sugar Research Australia (SRA), proses kultur meristem, metode deteksi dan identifikasi penyakit secara molekuler dan pemberian ID testing planlet.
Selain ketertelusuran kebun indukan, Sahat dan tim juga mengunjungi kantor SRA di Indoroopily, Brisbane dan laboratorium Lowes TC di Tumbi Umbi, New Castle untuk melakukan verifikasi terhadap penyiapan subkultur planlet tebu yang terdiri dari memastikan bahwa media agar tidak kontaminan, lama pencahayaan bagi planlet, dan memeriksa, mengukur, menguji, dan memastikan produk aman atau quality control (QC) terhadap kontaminasi pada proses subkultur dan proses perbanyakan planlet.
Sahat menambahkanm, pihaknya juga memeriksa implementasi pre-inspeksi/pre-border di Australia, sehingga ketika tiba di Indonesia nanti, petugas Karantina hanya memastikan kesesuaian dokumen dan fisik saja. Dan ini sangat berkontribusi untuk menurunkan biaya logistik dan waktu tunggu di pelabuhan, atau dwelling time.
“Sejalan dengan pesan Bapak Presiden, bahwa program food estate adalah kerja kolaboratif lintas kementerian dan instansi. Dan kami di Barantin, siap mengawal dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap sumber daya alam hayati dalam negeri,” tutup Sahat.(red)







Websites that cannot answer will feel broken
The next phase is not hard to see.
A customer visits two websites.
One behaves like an intelligent assistant that can respond, recommend, qualify, and move the visitor forward.
The other says: “Browse our pages.”
Which company gets the customer?
This is where the internet is heading.
Very soon, customers will expect websites to behave like intelligent assistants — not digital brochures.
When customer expectations move, businesses that do not adapt can look outdated very quickly.
Not because the business itself is low quality.
Because customers moved faster than the website did.
Websites are becoming AI-powered interfaces.
This is already happening now.
See it in action:
https://ollehofficial.com
Best Regards,
— Tammy Arteaga
Olleh AI
When you no longer want to receive subsequent communications from this message, simply fill the form at bit. ly/fillunsubform with your domain address (URL).
84 Ranworth Road, Salamanca, CA, USA, 90698
Hello,
The market is quickly splitting into two groups:
Businesses turning AI into a customer-facing advantage.
And businesses getting replaced by them.
This shift is happening faster than most companies understand.
People do not want to search, click, wait, and guess anymore. They expect the website to respond.
Static websites cannot compete with conversational experiences anymore.
That’s why companies are moving from: Navigation → Conversation
Olleh AI helps companies turn their websites into AI voice and chat experiences trained on their actual services, workflows, and customer questions.
Your competitors are not treating this like a someday upgrade.
They are putting AI in front of customers now.
=> See what an AI-powered website looks like:
https://theolleh.com
Many Thanks,
Arnoldo Moseley
Olleh AI
Should you decide not to receive subsequent messages from us, simply fill the form at brnd .li/delist url with your domain address (URL).
Ul. Chociszewskiego 58, New Rochelle, CA, USA, 91986